Sekolah merupakan tempat vital bagi semua orang untuk menimba ilmu dan diberikan pendidikan. Mulai dari professor sampai buruh kasar pastinya pernah menginjakkan kakinya di sekolah. Sudah sepantasnya sebuah tempat “keramat” ini di lengkapi dengan fasilitas yang memadai dan tentunya aman dari bencana. Bukan menjadi rahasia lagi Indonesia menjadi salah satu kawasan Asia yang rawan akan gempa bumi.
Pada pasal 31 ayat 4 UUDNRI berbunyi “Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasioanal”. Pasal ini belum menunjukkan keseriusan Pemerintah akan dunia pendidikan. Mengapa? Menurut data Bank Dunia tahun 2010 jumlah sekolah Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia. Dari 144.507 Sekolah Dasar sebanyak 109.401 sekolah berada di provinsi gempa tinggi. SLB (Sekolah Luar Biasa) sebanyak 1.147, SMP sebanyak 18.855 dan SMA sebanyak 7.237 semuanya berisiko tinggi pada gempa (Kompas, 10 Maret 2011, hal 13). Masih bisakah pemerintah bisa dikatakan serius menangani masalah pendidikan?.
Hal lain sebagai contoh bagunan SD Negeri Mampang Prapatan 03 Pagi/04 Petang yang mengalami pelapukan atap dan rawan rubuh. Ruangan yang hampir rubuh itu difungsikan sebagai ruang istirahat dan ruang tunggu guru. Sampai saat ini ruang itu disanggah dengan balok kayu sebagai penahan agar tidak jadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kondisi diatas merupakan kenyataan yang perlu kita perhatikan karena menyangkut keamanan dan kenyamanan anak kita yang bersekolah. Bagaimana kita ingin bersaing di kancah Internasional sedangkan dalam hal fasilitas saja kita masih tertinggal jauh dengan negara tetangga. Padahal dana yang dikucurkan dalam APBN untuk pendidikan 20 % tapi tak kunjung membawa perubahan yang berarti untuk dunia pendidikan.
Timbul tanda tanya besar benak kita mengapa hal ini bisa terjadi? Hal ini dimungkinkan karena dua hal yakni Pertama, masih banyaknya pengrogotan dana 20 % untuk pendidikan tersebut. Bukan hal aneh lagi kita melihat masalah dana besar belum menghasilkan sesuatu yang sempurna di Indonesia. Diperlukan kerja ekstra agar negara ini dalam kondisi yang bersih apalagi bila dana yang ditilep itu untuk dunia pendidikan. Budaya korup masih mengelilingi Indonesia dan menjadi wabah nasional. Kedua, kurang optimalnya perhatian dan pengawasan lapangan tentang pembangunan sekolah. Biarpun dari data dan observasi lapangan kelihatan baik namun pasti ada ‘kemungkinan-kemungkinan’ lain yang menjadikan sekolah yang direnovasi tidak kunjung mantap dalam hal kekokohan dan keamanannya. Kemungkinan itu datang dari segala penjuru baik kemungkinan bahan bagunan yang digunakan bermutu nomor dua dan pemotongan anggaran oleh pemegang sekolah itu sendiri.
Pemerintah seharusnya lebih jeli lagi dalam mengadakan renovasi dan peremajaan sekolah-sekolah. Jangan hanya mengandalkan secarik kertas laporan bahwa program-program yang dilakukan sudah clear dan bagus padahal hasil yang didapat kurang memuaskan bagi masyarakat sebagai pengguna fasilitas. Selain itu, dalam hal penanganan sekolah-sekolah yang rawan akan bencana baiknya diberikan perhatian lebih karena warga sekolah dominannya adalah anak-anak yang nantinya menjadi penerus bangsa.
Selain itu yang lebih penting adalah menghilangkan sikap korupsi yang sudah puluhan tahun menjadi musuh bangsa. Meskipun pengawasan sudah dilakukan tapi ‘kenakalan’ akan budaya korup masih terpatri dihati kita, capaian yang kita cita-citakan selama ini yakni membersihkan bumi Indonesia dari budaya korup. Penindakan pemiskinan bagi para koruptor kalau dilihat dari beberapa segi sudah cukup membantu agar koruptor-koruptor tersebut jera, namun penindakan hukuman mati nampaknya akan menimbulkan dampak yang sangat mengena dibenak koruptor untuk melakukan tindakannya. Intinya kita selaku warganegara yang baik perlu lebih cermat membaca kondisi negara khususnya masalah pendidikan karena masalah pendidikan bukanlah senda gurau semata karena dampaknya berimbas pada masa depan anak-anak.
keren... ney yg msk d analisa y
BalasHapusiya..... baru satu....
BalasHapus